Satu di dalam perbedaan

Ketika Nyawa Taruhannya


tatapan mata masih liar melirik ke segala arah pandangan. saya memiliki seorang teman yang memiliki wajah cukup menarik, namanya lucky. Begitu banyak cewek yang tak tahan dengan rayuannya, tak ada gadis yang tak mampu diraihnya. Tapi saat itu lucky mendapatkan tantangan dari seorang temanku lagi yang bernama tio. Tantangannya adalah mendapatkan seorang gadis jurusan keungan yang katanya sangat cantik dan sulit untuk dirayu. Lucky lalu menerima tawaran itu.

Setiap hari lucky selalu mendekati cewek yang memang berwajah cantik itu, tapi sang gadis selalu cuek kepada lucky, namun ketidak pedulian itu menambah semangat lucky, katanya “nah ini baru tantangan!!”. Suatu ketika, lucky memberanikan diri mendekati sang cewek yang sedang bercanda dengan teman-temannya, selangkah demi selangkah lucky berjalan, tapi tiba-tiba saya dan teman-teman sangat terkejut ketika sang cewek menyiram wajah lucky dengan segelas air yang membasahi sekujur tubuh lucky. Wajah lucky memerah, ia menatap gadis itu dengan penuh rasa dendam dan kemudian berjalan perlahan meninggalkan sang cewek pujaannya. “Ingat rie!!bakal aku balas dengan yang lebih menyakitkan!!!, “kata lucky ketika berjalan disampingku.

Hari berganti hari, sudah hampir sebulan saya tak melihat lucky, tak ada yang tahu keberadaan lucky, ternyata sepi juga tanpa canda tawa dari seorang temanku itu “kataku dalam hati”.

Saat itu Angin bertiup pelan menghembus helai rambutku yang sedang asik berbincang dengan teman-temanku, tapi kemudian sebuah gelas putih yang kuletakkan diatas meja terjatuh dan terhempas ke hamparan tanah, seorang temanku berteriak “oi lihat itu lucky!!!”, aku lalu menatap ke ujung pandangan, ternyata benar itu lucky, tapi ia sedang berjalan dengan siapa? kutatap saat itu ia sedang menggandeng seorang gadis. Kutatap perlahan ia berjalan ke arah ku. “Hallo semua!!!”, teriak lucky. Aku terkejut sangat terkejut, “bukannya itu cewek keuangan yang menyiram lucky?”, tanyaku dalam hati. “Nih kenalin Ria”, kata lucky sambil tersenyum. Si cewek lalu berkenalan dengan ku dan teman-temanku. Setelah agak lama berbincang, lucky lalu berkata, “eh gw ke kantin dulu ya”, katanya yang kemudian tersenyum kepadaku, sebuah senyuman yang agak aneh, antara bahagia dan kemunafikan, ah tapi aku tak terlalu dengan hal itu, yang penting temanku sudah bahagia, pikirku.

Semenjak lucky dekat atau mungkin pacaran dengan cewek itu, lucky sangat berubah, dia jarang ngumpul lagi denganku dan teman-teman, dan terdengar pula kabar lucky sering clubbing dengan pacar barunya.

Saat itu sore menjelang hampir dua bulan hubungan pertemanan ku dengan lucky tak ada komunikasi, padahal lucky adalah sahabatku tapi mungkin ia lebih memilih pacarnya daripada sahabatnya yang cupu ini. lembayung bersinar dengan indahnya, matahari perlahan meredup burung-burung berterbangan pertanda akan datangnya malam. Hp ku berdering begitu kerasnya, memecahkan lamunanku, ketika kujawab “hallo”, “hallo ini arie ya?”, “ya ini arie, ini siapa ya?”, “ini ria…kamu tahukan?”, “ya aku tahu ria, tapi ada apa ya?”, kamu pernah ngelihat lucky ga? soalnya ga ada kabar dari dia!?”, “loh bukannya dia sering jalan ama kamu?, aku aja ga tahu dia ada dimana sekarang”, “ou…gitu ya…ya udah deh makasih ya”…tut..tut..tut

Aku bingung, sangat bingung…ada apa dengan si lucky sebenarnya, aku lalu memberanikan diri mendatangi tempat dimana si lucky biasa nongkrong baru-baru ini. Saat itu jam di tanganku menunjukan angka 11 pertanda hari telah larut, tapi suasana masih sangat ramai saat itu ketika aku sampai di tempat yang disebut orang-orang “club” atau apalah. mataku mencari-cari sosok sahabatku itu, tak sekilaspun mataku berkedip…kutatap ke seluruh pandangan, tapi kemudian pandangan ku terhenti, aku melihat seorang lelaki yang sedang asyik bermesraan dengan seorang cewek sambil memegang segelas minuman, laki-laki itu mirip dengan sahabatku itu “lucky”. Aku lalu berjalan ke arah laki-laki itu, ternyata benar dia lucky. “Eh lo rie!!!!, hahaha…ternyata lo kesini juga!!, nih minum, kata lucky menyambutku. “Ga ky, gw cuma mau tahu aja keadaan lo gimana, anak-anak nyariin lo”, jawabku. “Gw ya gini-gini aja rie, yuk happy rie!!!”, teriak lucky yang terlihat mabuk. “Ky…tadi ria nelp gw nanyain lo, ada apa ky?”, tanyaku. Tapi lucky menjawabnya dengan wajah yang sedikit marah…”Ah mampus aja tu anak!!!”. Aku terdiam, beribu tanya di hatiku, “ada apa sebenarnya ini?”

Esok hari ketika matahari telah bersandar di tahtanya, aku membuka mataku dan bergegas ke kamar mandi. Namun ketika aku baru saja hendak melemaskan seruluh tubuhku yang baru tersadar, hp ku berdering. Saat kutatap hp ku itu, kulihat nomor yang sama dengan ria, aku lalu bergegas menjawabnya. “Hallo”, “Hallo rie, apa udah ada kabar dari lucky?”, “hmm…aku ga tahu lucky ada dimana ria, ntar dah kalo udah ada kabar dari lucky aku kasih tahu”, “Rie…besok aku boleh ngobrob ama kamu ga?”, “ngobrol aja sekarang…kan sama aja”, “ga deh besok aja aku tunggu di kantin”, “ok deh…”. Aku lalu mengambil segelas yang berisikan air putih lalu kuteguk minuman itu, gundah yang kurakan perlahan menghilang…aku sangat bingung ketika itu…”apa yang harus aku lakukan?”. Hari terasa berlalu sangat cepat…malam telah datang, bintang-bintang bertaburan memancarkan cahayanya yang begitu indah. Aku lalu mengambil kunci motorku dan bergegas ke club tempat lucky kemarin.

Saat aku sampai di tempat itu, terlihat senyum nakal seorang gadis menggodaku, tapi aku tak peduli…aku mempercepat langkahku mencari lucky. Tapi ketika aku telah bertemu dengan lucky, jawaban lucky selalu sama, “mampus aja tu anak”. Aku sangat kecewa, sedikitpun usahaku ini tak ada artinya. Aku lalu pulang dengan rasa gundah di benakku.

***
Rintik-rintik hujan terjun ke bumi bagaikan terbang tanpa sayapnya. Dingin sangat dingin, membasahi daun yang telah mengering, ketika itu pagi, aku sedang memetik gitar tua yang tak pernah lagi kebelai. Aku teringat janjiku ke ria. Aku lalu bergegas ke kampus, walaupun hujan masih berterbangan di helai-helai udara.

Aku kemudian sampai di kantin dengan baju yang sedikit basahtapi aku tetap tersenyum “hai ria, udah lama nunggu? sorry hujan tadi”, kata ku kepada ria yang telah terduduk sendiri. “Ah ga papa rie, tapi kamu kehujanan gini…harusnya aku yahng minta maaf udah ngerepotin”, jawab ria. “Katanya mau cerita?, cerita apa nie?”, kataku sambil bercanda. “Rie sebenarnya aku kangen dengan lucky, dia ga pernah ngabarin aku lagi”. “Wah kangen? knapa ga nelp si lucky aja?”, “Udah tapi hp nya ga pernah aktif”, “emang udah brapa lama sih?”, “Semenjak….”, kata ria yang kemudian terdiam. Rasa penasaran terus menghantuiku, “semenjak lucky punya pacar baru?”, kataku sambil tertawa. Aku terkejut sangat terkejut ketika air mata menetes dari pipi cantik ria. “Ria kamu kenapa? kamu kok nangis, ada yang salah dengan ucapan ku tadi ya?”, kataku gundah. “Lucky berubah semenjak tahu kalau aku hamil!!!”, kata ria sambil tersedu-sedu. “Ha hamil!!!”, kataku bingung. “Ya aku hamil rie…aku bingung”, “apa orang tua kamu udah tahu?”, “hmm…ya…mereka udah tahu”. Aku terdiam, tak ada kata yang mampu kuucapkan…beribu bimbang kurasakan saat itu, seorang sahabatku…

Ketika malam datang aku bergegas ke tempat lucky, kutemui dia…saat aku meliat lucky, kutarik tubuhnya yang telah mabuk itu…”eh ky…lo kenapa sih…si rie berulang kali nanyain lo!!!”, kata ku sambil berteriak. “Ah mampus aja tu anak!!!”, jawabnya sambil membentak ku. “Brengsek lo!!!”, kata ku sambil menamparnya. “Lo tahu kan dia hamil!!!!, tega amat lo!!!”. Lucky terdiam sejenak kemudian tertawa dengan kerasnya….”ha…haa…haa…gw kan udah pernah bilang ama lo!!! tunggu aja balasan gw ke tu anak!!!”, kata lucky sambil tertawa. “Tapi ga gini caranya luck!!!
, lo ngerusak anak orang”, bentak ku. “Justru ini tujuan gw pacaran ama dia!!!…hahaha…”, jawab lucky lagi. “Lo emang kelewatan…lo ingat luck, ntar lo nyesel”. “Gw ga kan nyesel rie…gw malah bahagia…kok malah lo yang sewot sih…lo aja yang pacaran ama dia sana!!!”, kata lucky yang menatangku. “Brengsek lo!!”. Aku lalu menariknya ketika tangan ku hendak memukulnya, seorang lelaki berbadan tegap memelukku dan mengusirku dari club itu, perasaanku bercampur ketika itu, marah, sedih dan kecewa. Aku terjatuh ketika pria bertubuh besar itu mendorongku ke tanah yang terhiasi bunga cantik yang berwarna putih, kulihat tubuhku berada diatas kuntum bunga itu, kutatap bunga itu terlah rusak dan mati karena ku.

Esok hari ketika gundahku masih memaksa ku untuk berteriak, aku menenangkan diriku dengan temaku, sebuah gitar yang terbaring kaku disebelahku. Kupetik gitar itu dan kemainkan nada-nada indah yang sedikit menghiburku. Tapi tiba-tiba hp ku berdering, kuliat ternyata hanya pesan singkat. Aku pun tak peduli dengan itu…aku terus memetik gitar tua ku itu. Ketika aku perlahan bernyanyi, rasa penasaran timbul dari benakku, aku lalu membuka isi pesan itu, ternyata dari ria, aku lalu membacanya…

rie…tadi lucky nelpon aku, aku bahagia rie…akhirnya dia ngehubungi aku lagi…walaupun dia tetap dengan keegoisannya yang tak mau bertanggung jawab dengan bayi yang kukandung ini…dia dengan lancarnya bilang ‘Gugurin aja tu anak, aku ga mau punya anak!!!”…aku bingung rie, daripada aku harus menggugurkan anak ini yang merupakan anugrah dari tuhan…lebih baik aku pergi darinya…

Aku terdiam merenungkan isi sms itu…tiba-tiba hp ku berdering lagi, sebuah sms lagi dari ria, aku lalu bergegas membaca isi sms itu…

aku ga tahan dengan cobaan ini rie…orang tua ku!!!aku udah membuat semuanya malu…mungkin ini adalah sms terakrih dari aku rie…makasih udah mau mengerti dan mendengar curhatan aku…aku titip lucky rie

Aku terkejut membaca sms itu…Apa maksud dari sms ini?!!!, apa ria senekat itu?!!!…aku lalu menghubungi ria, tapi hp nya ga aktif. Langkahku bergegas ke kampus…kucari teman-temanku…ternyata benar, teman-temanku sedang sibuk bercerita tentang ria, ketika itu 2 jam berselang setelah ria mengirim sms kepadaku, “Rie lo tahu ga? rie minum racun…sekarang dia di ugd…”, kata tio. “Ha…bener tu!!!”, “ya rie…”, “yuk kita kesana”…kami lalu menuju rumah sakit tempat ria dirawat.

Air mataku tak mampu kebendung, menetes dari pipiku ketika melihat ria terbaring lemas diatas kasur yang beralaskan sprei warna putih itu. Tapi aku terkejut ketika seorang laki-laki tua menghampiri dan langsung menamparku, “Kamu yang namanya lucky ya!!!, brengsek kamu!!!”, “Om tenang dulu…saya buan lucky, saya arie…”, kataku sambil menahan rasa sakit di pipi ku. Ou rupanya laki-laki tua itu adalah ayah dari ria…ia lalu terdiam dan terduduk di lantai sambil menetesan air mata. “Maap…saya kira kamu lucky…laki-laki bangsat yang udah membuat anak saya seperti ini!!!”, “ga papa om…”, jawab ku. Ketika suasana terhening, terdengar pelan suara ria “Lucky…lucky…”, aku semakin tak tahan dengan kepedihan itu…aku lalu meninggalkan teman-temanku dan ria, maksudku ingin mencari lucky. Aku menuju ke rumah lucky, tapi aku tak menemuinya…aku terus mencarinya ketika itu dengan penuh gundah tapi aku tetap tak menemuinya. Ketika malam datang, aku tahu dimana satu-satunya tempat aku bisa menemi si lucky…aku lalu mendatangi club itu lagi, ternyata benar…lucky telah ada disana…aku lalu menghampirinya…”Ky…lo harus ketemu nia!!!”, “lo lagi rie…mak bapaknya aja ga ada nyariin gw, kok lo semangat amat sih!!!”, sindir lucky. “Ky lo sebenarnya sayang ga sih ama si ria?”, “Mana ada gw sayang ama tu anak!!! gw cuma dendam”, “Ou jadi lo selama ini ga sedikitpun sayang ama dia?, gimana kalau dia udah ninggalin lo ky”, kataku. “Terserah kalau dia mau mutusin aku, justru gw senang putus ama dia”. “Gimana kalau dia ninggalin lo selamanya”, kataku sambil menatap mata lucky. “Selamanya?!!”, tanya lucky bingung. “Lo tahu…tadi pagi ria nekat minum racun karena lo!!!, kalau lo masih sayang ama dia, ayo ikut gw ke rumah sakit…tapi kalau lo ga mau juga ga papa”, kata ku. Lucky lalu terdiam, aku lalu melangkahkan kaki ku perlahan. tapi tiba-tiba lucky berlari mengejarku “serius lo ria sekarang di rumah sakit?”, “ya sekarang dia lagi kirtis!!!”. Terliat air mata menetes dari pipi lucky, ternyata lucky masih menyayangi ria, tapi tertutupi karena dendamnya yang membuatnya khilaf. Kami lalu bergegas ke rumah sakit…di perlanan lucky bercerita kepadaku…”sebenarnya gw sayang ama ria, tapi…gw kesel ama kelakuan dia dulu itu…tapi gw ga balakan nyakitin dia lagi…gw mau kok tanggung jawab…”, kata lucky dengan wajah yang bimbang.

Ketika kami tiba di rumah sakit lucky berkata lagi “Rie ntar lo yang jadi saksi kalau gw nikah dengan ria ya’, kata lucky sambil bercanda, tapi tiba-tiba aku sangat terkejut ketika mendengar suara tangis yang begitu keras, lucky lalu berlari ke arah tempat tidur ria…lucky melihat ria sudah terbujur kaku…hanya sebuah senyum yang hampa menghiasi wajah ria…tangisan lucky tak mampu dibendungnya…”ria!!!maafin gw!!!gw mau jadi bapak dari anak kita!!!”, kata lucky sambil berteriak…air matanya terus menetes tak henti membasahi bumi…lucky kemudian menggengam tangan ria…dikecupnya tangan yang sudah kaku itu…lucky terdiam sesaat ketika melihat tangan ria masih memegang kalung yang berhiaskan angka “L”…lucky lalu berjalan ke arahku…”gw nyesel rie…gw udah nyia-nyiain dia…kalung ini masih dia genggam sampai dia ningalin aku selama-lamanya…kalung ini pemberian aku rie, saat itu aku bilang ke ria , jaga kalung ini…kalung ini tanda cinta aku ke ria selamanya…”, kata lucky sambil menangis. Aku hanya terdiam mendengar kata-kata lucky, tak ada yang mampu ku ucapkan…hanya air mata yang menetes dari pipiku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s