Satu di dalam perbedaan

Tunjuk satu bintang Untukku


“ngapain Ki disana, ngelamunin spa hayoo?” teriak Nisha yang melihatku dari luar jendela. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Senyum termanis untuk sahabatku, Nisha. Segera aku bergegas keluar dari kamar. Menuruni tangga dengan cepat lalu keluar dari rumah. Aku ingin segera memandang wajah teduh Nisha yang setiap saat menentramkan hatiku. Memeluknya erat. Sekarang dia di hadapanku, sahabatku tersayang, Nisha.

“eh…eh…kenapa seh? Datang langsung meluk gini? Aneh”. Kata Nisa keheranan
“Nisha,!!!” seruku
“iya kenapa Salki sayang?”
“kemana aja seh, kok seminggu ini jarang ke rumah, kangen tau”
“he..he.. maaf lagi sibuk.. biasa.. calon wanita karir..he he..”
“ooww..”
“lagi ngelamunin apa seh Ki tadi? Ada masalah ya? Cerita dong..”

“mmm” aku menggelengkan kepala untuk menyatakan tidak. Bukan berarti tidak ada masalah. Tapi aku tidak mau Nisha tau kalau aku sedang ada masalah. Aku tidak mau dia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Ini masalah yang terlalu klasik. Mungkin saja Nisha akan mentransfer sejuta nasehatnya yang sama dari masa ke masa (hehehe). Dan aku akan terlampau bosan dengan itu semua.
Lama kami saling bertatapan. Kami sama-sama bingung. Tak lama Nisha kembali tersenyum kemudian menarik tanganku. Sepertinya Nisha menarikku untuk mengajakku ke rumahnya.

“Nis… mau kemana nih?”
“ya ke rumahku lah..”
“ihh…ga mau,,,”
“kenapa ga mau? Tenang ja k’Arfan lagi ga di rumah kok”

Tenang. Kak Arfan sedang tidak di rumah Nisha sekarang. Aku menghela nafas pelan. Tidak bisa kubayangkan bila bertemu kak Arfan lagi. Seakan video sejarah yang lalu terputar kembali. Saat kak Arfan marah-marah sampai membuatku menangis ketika dengan sengaja aku menyembunyikan sekatong kelerengnya yang kukira adalah kepunyaan Nisha (huuhh..jail salah tempat..hehe). Waktu itu aku tidak sempat berfikir, mana mungkin Nisha mau bermain kelereng. Nisha kan tau nya main boneka bonekaan (hehehe). Itulah sejarah buruk. Sejarah terburuk yang pernah kualami dalam hidupku. Dan kejadian itu masih terngiang dalam ingatanku sampai saat ini.

Masuk ke dalam rumah. Tumben rumah Nisha sepi. Tak kudapati seorang pun di dalamnya. Baik ayah ataupun ibu Nisha. Aku mengerutkan kening. Memang sih rumah Nisha selalu terlihat sepi. Tapi tidak pernah aku mendapati rumahnya kosong tanpa penghuni. Kalau mau dibandingkan dengan rumahku, ya sama-sama sepi seh tapi tidak sampai kosong tidak ada orang, pasti selalu ada tante Ami, adik ibu yang ada menemaniku. Aku kembali menatap dengan serius belahan rumah ini. Kulihat ke kanan dan ke kiri, tetap tidak ada orang. Biasanya kan ada ibu Nisha yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV atau ayah Nisha yang sedang sibuk di perpustakaan pribadinya. Aneh. Sangat aneh.

Keanehan tidak berhenti sampai di situ saja. Keanehan juga kulihat ketika memasuki kamar Nisha. Seperti hamparan ruang kosong, yang tersisa hanya sebuah tempat tidur dan rak buku. Dinding-dindingnya yang dulu dipenuhi dengan foto kami berdua juga tidak ada. Hanya sebuah gambar. Gambar setangkai bunga karyaku yang telah dibingkai. Aku tertawa ketika mengingatnya kembali. gambar itu seperti permanen terpajang di situ. Waktu itu, saking bahagianya aku bisa menggambar setangkai bunga yang kuanggap adalah gambar yang paling indah yang pernah kubuat (paling ga suka gambar seh..Cuma ga mau kalah dari Nisha yang jago bgt gambar..hehe) sampai-sampai tanpa sepegetahuan Nisha, aku memajangnya sendiri dengan sebuah paku beton. Alhasil karena takut ketahuan dan terburu-buru, aku memakunya terlalu dalam dan tidak bisa terlepas lagi (duh..maaf bgt Nis..hehe). Kembali dengan keanehan tadi. Aku benar-benar bingung apa yang terjadi sebenarnya disini. Di rumah ini.

“Nis, kok kamar kamu kosong gini. Ada apa seh?” tanyaku bingung
“udah.. ga usah banyak nanya, ntar aku cerita kok. Tenang aja” balas Nisha
“jangan bikin penasaran deh.. ceritanya sekarang ja..” tanyaku
“huhh…cerewet bgt seh… ga bisa kurang tuh cerewetnya.. ntar ga ada yang mau lo” komentar Nisa
“biarin..”jawabku ketus.
“ada yang aku mau liatin ke kamu Ki”
“apa??”

Tanda tanya besar. Apa yang mau diperlihatkan Nisha padaku. Rahasia besar. Tapi aku membayangkan yang aneh-aneh. Mungkinkah sebuah gaun orang dewasa seperti impian Nisha selama ini atau sekarung coklat seperti impianku atau kodok. Ih.. jijik. Nisha berjalan ke arah saklar lampu lalu mematikannya. Tiba-tiba kamar menjadi gelap. Aku sedikit ketakutan. Tanpa sengaja aku menginjak sesuatu, lalu dengan spontan aku berteriak. Arrrggghhh.
“huhh.. preman kok takut gelap.. itu namanya preman cemen.” Ledek Nisha

Aku menggerutu dalam hati karena kesal. Kembali Nisha memegang tanganku. Menuntunku dalam gelap (harap tenang, aku bukan orang buta, :-P). Mengarahkanku ke suatu tempat. Tempat yang sebelumnya tidak pernah Nisha perlihatkan padaku. Tapi rasanya aku pernah melihat tempat ini tapi dari sudut pandang yang lain. Tempat itu adalah di atas genteng depan kamar Nisha. Aku sedikit ngeri berada di atas genteng. Takut jatuh. Nisha meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa denganku. Aku pun lega. Pemandangan malam ini indah.

“kok ga pernah ngajak aku ke sini seh” tanyaku
“suka ga Ki?”jawab Nisha
“suka banget”
“sengaja aku matiin lampunya supaya bisa ngeliat bintangnya lebih jelas”

Telunjuk Nisha mengarah ke arah langit. Langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang. Bintang-bintang yang senantiasa bersinar di malam hari. Menemani sang rembulan yang mungkin kesepian. Ya.. seperti aku kesepian kalau Nisha tidak ada. Sekompleks pun dapat kulihat dari sini. Tukang baso, taman bermain, pos ronda, dll. Sungguh indah.

“Salki”
“iya, kenapa Nis?”
“tunjuk satu bintang untukku Ki”
“buat apa?”
“ayolah Ki, tinggal nunjuk aja susah amat”

Semua bintang kulihat indah. Sepertinya aku tak bisa menentukan yang mana. Semuanya indah. Tapi diantara yang indah itu, ada yang paling terang. Yang paling dekat dengan rembulan. Reflex kuangkat jemariku menunjuk pada bintang yang paling terang itu. bintang yang paling dekat dengan rembulan. Aku berbalik ke arah Nisha. Terlihat Nisha sedang menengadahkan kedua tangannya lalu menyapu kedua tangannya ke muka. Amin. Aduuh.. terlalu banyak keanehan disini.

“lagi ngapain seh?”
“nggak”
“Nis, liat ga seh, aku nunjuk bintang yang itu tuh.”
“oohhh yang itu. Makasih ya Ki, eh… mau nanya, kenapa kamu milih bintang yang itu”
“sama2. Mmm bintang itu yang paling terang diantara bintang yang lain, bintang itu yang paling deket dari bulan.”
“biar apa?”
“biar bisa nerangin kamu dalam gelap trus biar ga kesepian karena ada bulan di dekatnya, kayak aku gitu deh, yang slalu menerangimu dan menemanimu…hehe”
“ih…gemes deh jadinya” sambil mencubit kedua pipiku
“Nis, tunjuk satu bintang untukku juga dong”
“udah”
“kok udah, daritadi kan ga nunjuk apa2, gmn seh?”
“udah tadi. Dalam doa”
“curang, masa nunjuk dalam doa, kan ga ketahuan bintangnya yang mana”
“suatu saat juga akan tau, bintang yang bisa nerangin n nemenin kamu yang sering kesepian”

Nisha tertawa bahagia. Bisa menjailiku yang sering menjailinya. Balas dendam. Namun tergambar jelas dari wajahnya. Ada guratan kesedihan yang tidak aku ketahui.segera aku membuyarkan lamunanku itu. tidak mungkin Nisha sedih. Dia sedang bahagia karena ada aku disini (ge er..). sepertinya Nisha mau mengungkapkan sesuatu.

“masih ada yang mau aku ceritain Ki”
“iya.. cerita ja”
“tapi jangan marah ya”
“apaan seh.. sejahat2nya kamu ke aku, ga bakalan aku marah, tenang aja”
“ gini, mungkin kamu bingung liat keadaan rumahku malam ini. Sepi. Ga ada orang. Ayah ibu ga ada. K’Arfan pergi. Kamarku kosong..”
“iya kenapa?”
“mmm beberapa hari ini aku jarang maen ke rumahmu Ki. Biasalah kamu mungkin udah tau, orang tuaku sering bertengkar, bikin aku pusing. Kalau orang tuaku udah mulai bertengkar kayak gitu, aku seringnya kesini, biar ga denger pertengkaran mereka. Terus dua hari yang lalu mereka bertengkar hebat, aku juga ga tau persis kejadiannya gimana. Pas kemarin sore. Kita semua ngumpul di ruang tengah. Ayah, ibu, k’ Arfan, aku. Ayah ibu bicara di depan aku dan k’ Arfan, mereka mutusin untuk pisah. Kami disuruh milih mau ikut siapa, ayah atau ibu. Aku nangis. K’ Arfan diam. Sampai k’ Arfan mutusin, aku ikut ibu dan k’Arfan ikut ayah.”

“sabar ya Nis, aku akan tetep nemenin kamu kok”
“Ki, maafin aku yah. Aku harus pergi, pergi dari sini”
“maksudnya? Aku ga ngerti Nis, maksud kamu apa?”
“iya.. aku ikut ibu. Tidak tinggal di sini. Aku pindah ke Bandung, Ki”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Seakan akan ada hantaman keras mendera kedua telingaku. Aku tak percaya. Aku merasa ini hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk. Nisha akan pergi. Pergi jauh dari sini. Meninggalkanku. Sendiri. Air mataku tak dapat terbendung lagi walau dengan bendungan yang amat kokoh sekalipun. Kuseka air mataku. Memeluk lutut. Namun amat deras sampai kedua lengan bajuku basah dengan air mata.

Nisha berusaha menenangkanku. Membujukku dengan 2 batang coklat yang telah disembunyikannya sedari tadi. Mengantisipasi kejadian yang telah dia duga sebelumnya. Namun ketertarikanku akan coklat berubah drastic menjadi sebuah kebencian. Aku tidak suka coklat saat itu.

Dalam pikirku, jika menanam benih yang baik maka kita akan menuai buah yang baik, jika kita mengawali sesuatu dengan baik maka akhirnya pun akan baik. Namun itu tidak berlaku di kejadian malam ini. Diawali dengan kebahagiaan ketika melihat bintang-bintang yang begitu indah tapi berakhir tragis dengan sebuah kenyataan bahwa Nisha harus pergi ke Bandung mengikuti ibunya. Walaupun aku tidak setuju. Aku harus tetap menerimanya.

Kulihat Nisha dari kaca jendela. Hari itu pun tiba. Hari dimana Nisha harus segera meninggalkan Makassar untuk bertolak ke Bandung. Nisha berpamitan dengan Tante Ami, juga denganku tapi aku tak ingin keluar dari rumah. Aku tak ingin berpamitan dengan Nisha. Seolah-olah ini adalah pertemuan terakhir. Aku kembali menangis. Beberapa kali terlihat olehku Nisha berusaha masuk ke dalam rumah tapi selalu dicegat Tante Ami, sesuai dengan permintaanku. Mungkin karena sudah lelah, akhirnya Nisha menyerah, ia membalikkan badan menuju ke taksi.

Aku lantas berpikir. Walaupun teori awal baik akhir baik tidak berlaku malam itu. Bukan berarti persahabatan yang dimulai dengan baik harus aku akhiri dengan akhir yang tidak baik seperti ini. Aku tak kuasa menahan langkah ini, langkah yang ingin mendekati Nisha. Kubuka pintu ruang tamu dan segera berlari ke arah Nisha.

“Nis, jangan pergi ya?”
“ga bisa, aku harus pergi Ki, sejam lagi aku udah harus ada di bandara”
“Nis ga ada yang nemenin aku, aku gak protes lagi deh kalo kamu ngomel2 ke aku Nis, janji!”
“gak boleh ngomong gitu, suatu saat ada yang gantiin aku kok, yang akan nemenin kamu terus”
“hiks.hiks.hiks”
“aku kan dah nunjuk satu bintang untuk kamu Ki, dalam doaku semalem.”

Nisha menghapus air mataku. Menenangkanku agar tidak menangis lagi. aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. taksi sudah lama menunggu, begitu pula dengan k’Arfan yang akan mengantarkan Nisha ke bandara. Kuhela nafas panjang. Membiarkan hati ini ikhlas. Aku sempat melambaikan tangan ketika taksi sudah mulai berjalan. Aku tidak beranjak sambil melihat taksi itu pergi. Sampai taksi itu tak terlihat lagi.
***

“dulu ngeliat bintangnya dari genteng di atas situ tuh” kataku sambil menunjuk ke arah genteng
“sama Nisha y?”
“iya, waktu itu Nisha minta aku nunjuk satu bintang untuk dia, trus aku nunjuk bintang,, eh.. dia malah berdoa. Pas aku minta dia nunjuk satu bintang untukku, dia bilang udah nunjuk dalam doa”
“kok gitu, apa maksudnya?”
“aku juga gak ngerti, yang jelas dia selalu bilang yang akan menerangi n menemani aku gitu”
“mmm.. Ki, waktu itu kamu nunjuk bintang yang mana”

Aku menunjuk bintang di langit. Bintang yang paling dekat dengan sang rembulan. Bintang yang paling terang bersinar diantara betaburan bintang yang lain. Sampai-sampai sinarnya dapat terpantul dari sebuah lingkar emas di jari manis kananku. Lingkar emas yang disematkan oleh ‘Arfandi Bintang’. Yang kini menemaniku di sebuah pohon yang berada di samping rumah Nisha. Apakah bintang yang kamu tunjuk untukku dalam doamu adalah ‘Arfandi Bintang’ Nis? Kakakmu? Tanyaku dalam hati. Aku tersenyum simpul. Melihatku tersenyum, k’ Arfan pun ikut tersenyum.

“selain di atas genteng itu, ada lagi loh tempat yang bersejarah di sini”
“dimana Ki?”
“di pohon ini”
“pohon ini?”
“iya, dulu… aku nyembunyiin kelereng k’Arfan di balik pohon ini loh…hehehe”

K’Arfan tertawa, aku pun tertawa. Betapa bahagianya aku malam ini. Dapat bernostalgia tentang bintang itu, tentang di atas genteng, tentang pohon ini yang semuanya bersejarah dalam hidupku. Tapi, aku masih penasaran, apakah betul bintang yang Nisha tunjuk dalam doanya adalah k’Arfan. Tanyaku itu tak dapat terjawab sebelum Nisha langsung yang memberitahukannya padaku. Aku ingin tahu. “tunggu aku di Bandung,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s