Satu di dalam perbedaan

sayang jantungku berdetak


“ KRINGGGGG…”

“ Hallo…disini Fizzy!! Situ siapa ?”

“ Saya  cowoknya Fizzy yang paling kereen…”jawab cowok yang bernada penuh dengan cinta.

Fizzy berfikir sebentar tentang cowok yang mengaku cowoknya tersebut, tapi setelah Fizzy memejamkan kedua matanya…ting!!! Baru ingat suara itu.

“ Oh…KAK DIDI!!!! Cowokku yang paling keren itu ya.” Antusias gadis imut itu setelah ingat bahwa suara itu suara pacarnya yang tampan, mereka berpacaran sudah 2 tahun. Didi adalah Kakak kelasnya Fizzy.

“ Tar Saya ke rumah kamu ya, sayang…aku mau jemput kamu, tungguin ya !!”

“ YUP..”

“ Tut..tut…”telepon tertutup.

Setelah Fizzy sampai di kelasnya 1.3, gerumuh disana dan disini penuh dengan kegaduhan, sampai-sampai beberapa anak cowok ada yang saling melempar-lemparkan kertas, ada yang sedang PDKT, dan ada yang belajar, benar-benar seperti dunia remaja banget. Fizzy gadis yang hitam manis, rambutnya sedikit bergelombang, wajahnya sedikit campuran Arab, namun dia membantah dibilang keturunan Arab. Dia dandanannya selalu memakai jepitan atau bandana yang warnanya sama dengan suasana hatinya. Ketika itu dia memakai bandana yang warnanya sama dengan gelang serta jam tangannya berwarna merah jambu, warna kesukaannya dia. Ketika dia sedang asyik mengerjakan soal Bahasa Inggris, tiba-tiba saja…

“ DORRRR…” sapa temen sebangkunya Fizzy, Mita namanya, gadis periang serta imut itu langsung duduk di samping Fizzy.

“ Aduhhh..sayangku kaget tahu…”Fizzy memegang Jantungnya serta membalas dengan cubitan kecil ke tangan kanan temannya itu.

“ BTW..noh ada saingan ‘juara umum’ lo, udah pinter, ganteng lagi!! namanya Ridi, anak kelas 1.4.” Mita sambil menengok ke arah cowok tersebut yang melewati kelas 1.3. karena 1.3 dan 1.4 adalah kelas yang berdampingan.

“ APA ? RIDI ? kayaknya sih dia playboy , orangnya indo, kok namanya Ridi, gak salah tuh pake nama bangsa gue!! Unek Fizzy yang sebal ngeliat laganya Ridi yang sombong.

“ Ye, kagak ngaca apa lo, lo juga, tampang lo Arab, tapi namanya kebule-bulean, Fizzy, aturan mah nama lo Siti Arabi…” Mita membalas omongannya Fizzy, dan mencubit hidungnya Fizzy yang mancung seperti orang Arab.

“ Gue keturunan Jawa-Sunda kali, gantengan juga Kak Didi, bukan Ridi!!” balas Fizzy yang tak terima, dia mencubit pipi Mita, gadis perawakan Cina dan bermata sipit itu.

Pelase dech Fizzy, lo jangan fanatic Didi dech..”

“ Duh, Kak Didi, bukan Didi..” protes Fizzy yang kedua kalinya, namun Mita hanya pasrah dan nyerah.

“ Iya, tapi walaupun Didi , eh salah KAK DIDI, bokin lo itu diharap-harapin putus sama anak kelas 3 itu..lo juga harus punya cadangan.” Mita menggoda Fizzy sekali lagi dengan nada becanda.

“ Sesat banget sih pikiran lo… udah ah…sekarang lebih baik lo kerjain PR aja dech, kalo dibiarin otak lo itu isinya Cuma cinta, cinta dan cintaaa melulu.” Jawab Fizzy sambil membuka buku pelajaran.

Ketika Ridi berjalan menuju kantin dengan gaya

rambut spike dan baju seragam yang dikeluarin, gayanya bener-bener gaul habis, ga kelihatan tampang pinternya, cowok yang kulitnya putih bersinar memilaukan para cewek-cewek centil, termasuk Mita. Saat itu Fizzy dan Mita sedang bercanda dikantin dengan riuhnya. Canda tawa mereka meramaikan suasana, padahal mereka hanya 2 orang, tetapi seperti sepuluh orang saja. Ketika sedang asyik ngobrol, tiba-tiba saja tangan kanan Fizzy ditarik oleh tangan yang berkulit putih dan memakai ban-ban biru. Heningnya suasana ketika sensasi itu diwijudkan oleh cowok perawakkan Australia-Jawa, Yup..dia adalah Ridi.

“ MAU APA LO…PAKE NARIK-NARIK TANGAN GUE, MAU CARI MATI LO..TAU GAK, DISINI TUH ADA

COWOK GUE, DIDI ANAK KELAS 3 IPA, BERANI-BENARINYA LO!!” Fizzy spontanitas teriak sambil melepaskan tangan kanannya Didi, lalu Fizzy melirik ke arah Didi yang sedang ngobrol dengan beberapa siswa lainnya, tatapan Fizzy melihat Didi seperti meminta bantuan kepada pacarnya itu, tetapi Didi hanya diam saja, hal itu membuat Fizzy jengkel menghadapi Ridi yang tak jelas maksudnya apa menarik lengan Fizzy sampai-sampai Fizzy berdiri tegak dari posisinya duduk.

“ Gue pengen tahu..seberapa jauh sih kecerdasan lo dibanding gue, gue denger-denger lo juara umum tahun ini.” Tegas Ridi yang penasaran dengan kecerdasan Fizzy yang mendapat predikat ‘sang juara’ umum tersebut.

“ Jadi maksud lo Cuma mau bilang ini aja, ga ada yang lain? Asal lo tahu ya, mau juara umum kek, mau gak..bukan urusan lo…COWOK SOK PINTER!!!” Fizzy meninggalkan kantin sekolah dan meninggalkan Ridi, disusul dengan Mita yang cengo melihat reaksi mereka berdua, suasana kantin itu heboh melihat, sekaligus mendengarkan pembicaraan Fizzy dan Ridi.

*        *

Dear Diary…

BT-in banget sih, Ridi itu sok mau ngalahin gue lagi, yang bikin gue tambah BT yaitu Kak Didi malah diem aja ngeliatin gue sama Ridi ribut di kantin, hari init uh gue BT banget punya pacar kayak Kak Didi, apa dia udah ga sayang lagi ya sama gue? Apa dia udah mati rasa? Atau dia malu punya pacar kayak gue? Cemburu kek dikit…kayaknya gue belum lihat Kak Didi cemburu selama 2 tahun gue pacaran, selalu aja dia positive thingking sama cowok-cowok yang deketin gue…

Duh pusing sama Kak Didi, tapi walaupun begitu, gue sayang banget sama dia…

Ungkapan isi hati Fizzy sudah tertulis dalam buku hariannya, setelah menulis buku diary, Fizzy tertidur dengan kondisi buku diarynya terbulu serta pulpennya masih dia pegang.

*        *        *

Pagipun tiba, Fizzy disambut oleh matahari yang setia menyinari bumi, itulah yang diharapkan Fizzy dengan Didi, yang selalu setia dengan Fizzy seperti matahari yang selalu setia dengan bumi. Tapi Fizzy amat tergesah-gesah berangkat ke sekolah, karena dia belum mengerjakan PR matematika, dia lupa karena semalem keasyikkan menulis diary, terpaksa Fizzy mengerjakan di kelas.

“Hmm..juara umum kok ngerjain PR di sekolah?” sindir Ridi yang tiba-tiba muncul di hadapan Fizzy yang sedang terburu-buru mengerjakan 5 soal tentang pertidaksamaan, dia ngebut mengerjakannya, untung sekarang dia sedang mengerjakan soal yang terakhir.

“ Eh Bule gila, mau lo apa sih, gak cukup lo bikin gue malu sama seluruh warga sekolah ini.” Marah Fizzy yang tak terima dengan sindiran Ridi yang meledek.

“ Dasar cewek pemarah, onta Arab lo…” ledek Ridi yang tak mau kalah dari Fizzy.

“ Udah-udah, jangan berantem dong.” Mira yang baru datang ke kelas menenagkan mereka berdua, Ridi langsung menyingkir dari Fizzy, karena posisi duduk di sampingnya Fizzy itu direbut oleh Mita.

“ Rese lo…pergi sono loh!! Gue lagi ngerjain nomor terakhir nih..tar malah salah lagi kalo ada lo.” Balas Fizzy.

“ Bagus deh kalo salah semua jawaban lo, bisa-bisa predikat ‘juara umum’ itu pindah ke tangan gue, oya..kalo lama-lama dilihat lo manis juga.” Ridi menarik hidung Fizzy yang mancung serta dia lari takut dibalas cubitan oleh Fizzy.

“ RESE LO!! TUNGGGUUUU PEMBALASAN GUE!!” teriak Fizzy.

“ OK. GUE TUNGGU.” Teriak Ridi dari kejauhan.

*        *

“ Kamu gimana sih Kak Didi, diem aja ceweknya dibikin malu di kantin kemarin, Kak Didi udah ga sayang lagi yah sama Fizzy? Fizzy malu diliatin sama anak kelas 1, 2, dan 3. cemburu kek dikit sama Fizzy.” Fizzy yang sedang marah membuang muka, mereka sedang duduk di taman sekolah.

Melihat Fizzy yang tiba-tiba menangis. Didi tak kuasa kasihan mendengar keluh kesah ceweknya itu, Didi langsung memeluk erat tubuh imut Fizzy, Didi, cowok Indonesia asli tanpa campuran itu begitu menyayangi Fizzy, tubuh Didi memang kekar, memiliki bahu yang lebar, membuat Fizzy nyaman bersandar di dadanya Didi yang penuh dengan kehangatan.

“ Fizzy sayang…Saya sayanggggg bangeeettt sama kamu, waktu itu saya diam karena saya ga mau berbuat suasana tambah gaduh aja, saya juga ga mau pisah sama Fizzy, bukannya saya ga pernah cemburu, saya percaya sama kamu, walaupun selama 2 tahun kita pacaran semenjak kamu SMP, dan kamu sering dideketin sama cowok-cowok yang suka sama kamu, saya percaya kalau Cuma saya yang ada di hati kamu, saya mau berbuat apapun asalkan kamu bahagia.” jelas Didi, cowok perawakan Sunda Garut dan Sunda Bogor, dengan penuh wajah lembut dan cinta, kata-kata itu membuat Fizzy tenang dan tersenyum.

“ Terimakasih ya Kak Didi, kamu memilih aku jadi pacar pertama kamu, sebenarnya kamu juga pacar pertama aku, Fizzy semakin jatuh cintaaa sama Kak Didi, Kak Didi jangan pernah ninggalin Fizzy ya? Ga tahu dech Fizzy jadinya kayak apa kalo kamu ninggalin aku.” Fizzy menatap mata sayunya Didi, Didi membalas dengan senyuman.

“ Kalau sewaktu-waktu kita pisah, kamu harus mencari warna yang lain, hidup ini gak hanya satu warna aja, tapi banyak, Fizzy harus ingat kata-kata saya ya?” kata-kata Didi membuat Fizzy semakin takut berpisah dengan sang kekasihnya itu.

“ Kok kamu bicara kayak gitu ?” penasaran Fizzy.

“ Ga kenapa-napa!! Oya kayaknya cowok yang bikin gebrakan sama kamu di kantin itu naksir dech sama kamu, saya rela dech kalo Ridi jadi yang kedua bagi kamu!!” canda Didi yang tampaknya menyembunyikan sesuatu.

“ Aku tetap sama Kak Didi, dia tuh cowok yang syirik sama aku, gara-gara aku yang dapetin predikat ‘juara umum’ dan dapet beasiswa selama 1 semester, dia hanya jadi juara kelas aja, Kak Didi yang tetap ada di hati Fizzy.” Fizzy memeluk kekasihnya itu dengan tulus.

“ ADUH…!!!” rintih Didi memegang jantungnya, kemudian Fizzy melepaskan pelukannya itu dan Fizzy kaget kenapa Didi merintih sambil memegang dada sebelah kirinya.

“ Kak Didi kenapa ??” Fizzy cemas melihat raut muka Didi yang tampak kesakitan.

“ Gak kenapa-napa kok! Saya Cuma becanda..gini-gini saya pernah jadi anak teater.” Didi berbohong karena ingin menutupi kecemasan Fizzy, Didi menahan rasa sakit di jantungnya.

“ Kak Didiii…aku cemas tahu!!”

Setelah waktu istirahat selesai, mereka masuk ke kelasnya masing-masing, Didi mengantarkan Fizzy ke kelas terlebih dahulu.

*        *        *

Sore hari setelah pulang sekolah, adalah waktunya Fizzy dan Mita les bersama di tempat bimbingan belajar dekat dengan sekolahnya, namun saat itu mereka sedang berada di sekolah, mereka sambil memberes-bereskan buku karena bel pulang sekolah sudah bunyi dengan keras.

“ Kita jadi kan

, Fizz?” langsung Mita tanpa basa-basi bertanya kepada Fizzy, mereka sambil berjalan menuju pintu gerbang sekolah.

Jadi apa ya, Mit? Gue lupa tuh!!”

“ Ya les lah!! Sambil les, kita bisa ngeliat cowok-cowok cakep, kan

sambil belajar sambil cari pacar juga, secara gue jomblo, nah lo enak sudah punya monyet, eh salah maksud gue punya pacar,hehe…” Mita bercanda lagi.

“ Pusing gue ngomong sama lo, ga lepas dari makhluk yang namanya cowok, ya udah, kita sekarang langsung ke tempat bimbel ya, soalnya waktu pulang sekolah sama waktu masuknya les itu mepet banget.” Perintah Fizzy yang ikut-ikutan semangat buat dating ke tempat les dengan memakai baju seragam sekolah SMA.

*        *

Di tempat les

Fizzy duduk di barisan yang paling depan berdampingan dengan Mita yang larak-lirik melihat cowok-cowok yang silih berdatangan hadir, saat itu kelas memasukki pelajaran bahasa inggris.

“ Good morning young ladies and jentleman…please open your book page number seventy four.” Perintah guru cowok itu yang tampak tegas dan beribawa.

‘ Eh, liat ke belakang dech, ada si Ridi tuh, kayaknya sich dia ngeliatin lo terus, kayak mau makan lo aja.” Bisik Mita kaget kepada Fizzy yang ikut-ikutan liat ke arah bangku belakang, tampak seorang cowok tampan dengan gaya

menyebalkan, tatapannya tajam ditambah alis tebal yang menambah aura kegantengannya.

“ Ih..amit-amit dah satu les sama dia, satu sekolahan sama dia aja males banget, apalagi satu les sama dia.” Bisik Fizzy.

“ Tapi kata gue sih, lo sedikit suka sama dia, trus Kak Didi mau dibawa kemana?hehehe” bisikan Mita mulai terdengar oleh guru bimbel tersebut.

“ Ih rese lo..” bales Fizzy memukul pelan Mita dengan buku.

“ FIZZY AND MITA ? WHAT ARE YOU TALKING ABOUT? Give me a reason please.” Guru itu berjalan menuju ke arah Mita dan Fizzy, gawat.. di depan Ridi, Fizzy dibuat malu lagi, jadi sorotan anak-anak bimbel.

“ Oh No Mr…Yes..Yess..No..No…” Mita gelagapan menjawab melihat guru bimbel yang baginya tampan, Fizzy pun gelisah serta malu.

“ Ha..ha…ha…” berhasil semua anak-anak bimbel menertawakan, ditambah Ridi yang tersenyum tipis.

“ Forgive their, sir…may be they are talking about this subject, I think this subject is difficult for me…” sahut Ridi, sok pembela gitu.

“ what the meaning, hah?” kaget Fizzy melihat aksi Ridi yang cari muka dengan Fizzy.

“ Any queation miss.Fizzy? sapa guru bimbel itu.

“ Of course, sir. Number 13 is difficult.” Terpaksa Fizzy ngasal bertanya, entah Ridi itu membantu atau menjatuhkan dirinya, sulit dibedakan.

*        *        *

Malam datang tak terduga, Fizzy pun sangat heran dengan sifat Ridi yang aneh, dia itu kadang baik, jutek, apa bener kata Mita, Ridi itu suka dengan Fizzy, namun hal itu gak mungkin bagi Fizzy.

Di malam yang penuh keheranan, Fizzy ditemani oleh beberapa PR, saat itu Fizzy memakai baju tidur bermotif boneka tedy bear, dan dia tidak lupa mengerjakan PR matematika di meja belajarnya. Mrs. Bawel adalah guru matematika Fizzy, Mrs. Bawel yang dijuluki oleh murid kelas 1 di sekolahannya Fizzy. Bayangin aja, kalo ada PR dan satu nomor pun belum dikerjakan, hukumannya yaitu bisa-bisa olahraga pagi alias dihukum lari 1 puteran, tepat sekali malam itu Fizzy kesulitan mengerjakan 1 nomor terakhir dari PR matematika itu. Fizzy kalang kabut mengerjakan 1 nomor itu, padahal sih nomor yang lainnya sudah dikerjakan.

“ ADUUUHHHH…susah amat sih ini soal..padahal tinggal satu nomor doing yang belom gue kerjain, gue takut nih lari pagi di sekolahan, apalagi kalo dilihat Ridi, pasti dia bahagia banget, dan dia dengan bangga hatinya bisa dapetin predikat ‘juara umum’.” Fizzy hanya bisa mengeluh sendiri di dalam kamar dan menggigitkan pulpennya serta bolak-balik buka buku paket MTK.

“ FIZZYYY…ADA

TELEPON DARI DIDI.” Teriak ibundanya Fizzy sambil mengetok-ngetok pintu kamarnya Fizzy yang terkunci itu, tapi saat itu Fizzy lagi kebingungan.

“ BILANG AKU GA ADA

,

MA

…!!” saking susahnya menghadapi satu soal itu, Fizzy berbohong, tidak peduli walaupun sang pacarnya telepon, alasan lain karena kalo dia menerima telepon dari cowoknya itu, takutnya dia malah marah-marah.

*        *        *

Di pagi hari yang sibuk, matahari tetap saja tersenyum melihat dunia. Fizzy berangkat sekolah dengan nuansa merah, bandana merah yang menghiasi rambut hitam panjang dan bergelombang, dan memakai jam tangan berwarna merah, dia memang gadis yang dominant serta gelang dan sepatu Nike yang warna merahnya sedikit ditambah kaos kaki se betis. Fizzy menuju kelas dengan langkah yang cepat dengan maksud menyelesaikan 1 nomor itu dengan benar.

“Aduuhhh…belom selesai 1 nomor nih, gue takut disuruh lari pagi ama Mrs. Bawel..lagian kebangetan banget sih ngasi soal Cuma satu yang susah!! Sengaja kali ya..” Fizzy berbicara sendiri, cemas, sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“ Emang songong tuh Mrs. Bawel, gue juga gitu sama kayak lo, Cuma satu yang belom, nyontek Ridi ah, dia kan

smart boy.” Mita melangkah menuju kelasnya Ridi yang berada di samping kelasnya.

Fizzy mengurungkan niatnya untuk ke kelas Ridi, dengan gensinya dia hiraukan ajakan Mita. Fizzy duduk kembali ke tempat duduknya sambil mengeluarkan Hpnya untuk menelpon cowoknya, Didi.

“ Kak Didi ada dimana? Kok dari tadi aku gak lihat kamu di kelas 3 IPA 2 ? Fizzy susah ngerjain PR nih !! Cuma satu nomor aja kok!!” suara Fizzy nan lembut terdengar dari telinga Didi, Didi hanya tersenyum tipis dari kejauhan mendengar suara itu dari telepon.

“ Saya memang lagi gak masuk sekolah, lagian semalem kamu gak nerima telepon dari saya…lagi sibuk ngerjain PR ya!! Maaf ya saya sekarang gak bisa bantuin kamu, kamu minta bantuin saja sama Ridi, dia lumayan jago loh matematikanya, sudah terkenal di kalangan guru nama dia. Sudah dulu ya Fizzy sayang..bye..!!” Didi dengan misteriusnya mematikan ponselnya, hal itu membuat Fizzy jengkel.

“ Tut…tut…tuuuttt.”

“ Kenapa sih Kak Didi langsung matiin ponselnya ? bikin BT aja, tapi walaupun begitu, Fizzy tetap sayang sama Dia, Kak Didi ku sayang.” Gumam Fizzy yang sedang bicara sendiri.

Ridi melihat Fizzy dari kejauhan yang sedang kebingungan mengerjakan satu soal yang belum selesai. Lalu Ridi menghampiri dan menyapa Fizzy dengan menepuk pundaknya dengan pelan.

“ Hi, mau gue ajarin cara nyelesaikan satu nomor itu ? mau gue ajarin atau olahraga ? capek loh olahraga pagi-pagi, berkeringat, trus bau badan deh, ih…terus lo bakal diliatin semua orang, apalagi lo ‘ Sang Juara Umum ‘, hehehe….”Ridi tertawa dengan gelinya sambil meledek Fizzy yang geram melihat tingkah laku Ridi yang tiba-tiba saja duduk di samping Fizzy.

“ OK…OK..gue nyerah, ajarin gue.” Jutek Fizzy.

“ Nah gitu dong, ada kalanya ‘ Sang Juara Umum’ minta bantuan sama si juara harapan.” Ridi mulai mengoras-gores buku matematikanya Fizzy dan soal itu dijawab dengan cara yang begitu mudah, Fizzy terheran-heran melihat gerakkan tangan Ridi yang begitu lincah dalam mengerjakan soal yang bagi Fizzy soal itu sulit.

“ Selesai kan

? gak jadi olahraga dech.” Ridi begitu manis menyambut kemenangan atas berhasilnya mengerjakan soal itu, senyuman Ridi begitu tulus dan manis, seolah-olah kata saingan dalam gelar ‘Juara Umun’ itu sirna.

“ RIDI????? Ternyata lo disini, gue cariin juga dimana-mana, eh kayaknya Fizzy sudah kelar tuh PRnya, gue nyontek ya…jangan-jangan lo dibantuin sama Ridi lagi ? ck..ck..ck..” canda Mita yang masuk kelas dengan tiba-tiba sambil menyambar buku Fizzy.

“ Ngak kok..g.uu.eee…Cuma….” gelagapan Fizzy akibat reaksi Mita yang menggoda.

Ridi hanya tertawa tipis melihat gelagat Fizzy yang aneh. Ridi langsung berdiri dari bangku yang ditempatkan Mita, karena Ridi melihat Mrs. Bawel yang memakai kacamata minus dengan langkah seolah-olah ingin menelan siswa yang tidak mengerjakan PR.

*        *        *

Di rumah sakit

“ DEK..DEK..”jantung Didi berdetak dan saat itu Didi sedang berada di ruang tunggu menunggu dokter spesialis jantungnya datang dan saat itu juga Didi ditemani oleh Ibundanya.

“ Ibu..jantungku sekarang sakit banget, lebih sakit daripada kemarin-kemarin, Bu..apakah jantungku akan berdetak terus ? katakana Bu ?” Rintih Didi, anak semata wayangnya sambil memegang dada sebelah kiri dan tiba-tiba saja Didi terjatuh lemas, lalu Didi dibawa ke ruang UGD dengan segeranya oleh para suster berdampingan dengan dokter spesialis yang sudah datang.

“ DIDI….” Teriak Ibundanya yang terkejut melihat Didi diam tak berdaya dengan mata yang tertutup.

“ CEPAT SUS..SEDIAKAN ALAT UNTUK OPRASI BESAR.”

Dokter dan suster-suster bekerja sama dalam memperjuangkan nyawa seorang Didi dengan menempelkan kabel-kabel yang berwarna-warni di dadanya seorang Didi yang begitu atletis dan tak disangka seorang Didi yang aktif dibidang aerobic itu terdampar di sebuah ruangan yang dipenuhi kabel-kabel serta infusan dengan dihiasi sebuah layar detak jantungnya. Ibundanya Didi hanya bisa menagis karena teringat suaminya yang telah meninggal karena serangan jantung, Ibundanya Didi tidak ingin kehilangan putra satu-satunya yang tercinta.

Di tengah keresahan dokter-dokter menangani oprasi pasiennya, beda sekali di lingkungan sekolah Fizzy, gadis perawakan Arab itu pun mulai akrab dengan Ridi, Ridi mengajak Fizzy ke sebuah taman belakang sekolah, tempat dimana Didi pernah memeluk Fizzy sampai-sampai Fizzy menangis saking bahagianya . Taman

itu sudah tersediannya bangku-bangku.

“ DEg..DEg…. DEg…”

“ Ada

apa lo ngajak gue kesini ? pake narik-narik tangan gue lagi, sakit tahu !!” polos Fizzy menatap mata Ridi.

“ Lo denger ya, sebenernya gue gak mau ngajak lo kesini.” Kegensian Ridi mulai timbul.

“ Ya udah kalo gitu, gue cabut dari sini, gue muak tahu ngelihat lo kayak gini, sok romantis ngajak gue ke taman, kenapa lo gak ngajak gue ke kantin, biar sekalian lo bikin malu gue sekali lagi, biar lo puas, sampe sekarang gue gak tahu maksud lo apa!! Gue balik dulu.” Fizzy berusaha bangkit dari bangku taman yang hijau dan dipenuhi bunga-bunga yang tampak layu, ketika kaki Fizzy melangkah, tiba-tiba saja…

“ SSSTTTT…” tangan Ridi memegang tangan Fizzy, kemudian menarik kencang tubuh Fizzy dan memeluk erat tubuh kecil Fizzy, hingga nafas Fizzy terengap-engap.

“ LEPASIN GUE, GUW GAK NYANGKA LO BEGINI, SAMA AJA LO NGERENDAHIN GUE…LO PIKIR GUE CEWEK APAAN YANG BISA LO PELUK-PELUK.” Teriak Fizzy memukul tubuh Ridi yang penuh dengan keringat yang mengucur ketika Ridi memeluk Fizzy tadi, kekuatan Fizzy begitu kencang sehingga membuat Ridi kesakitan dan melepaskan tubuh Fizzy.

“ Pertama kali gue lihat lo, Gue gak mau jadi pacar lo Fiz…” lembet Ridi yang kelembutan itu penuh dengan misterius.

“ SIAPA JUGA YANG MAU JADI PACAR LO..hanya cewek yang kesepian yang mau jadi pacar lo, asal lo tahu ya, gue ini sudah punya pacar, dia lebih baik dari lo, NGERTI LO ?” tegas Fizzy yang bicaranya penuh dengan tekanan.

“ Gue belom selesai ngomong, gue emang ga jatuh cinta sama lo setelah ber…KALI-KALI gue lihat lo, sejak lo sok jual mahal sama gue, semenjak gue lihat kepinteran lo, sejak kita bersaing merebutkan nilai terbaik, ternyata tahun ini lo yang menang, dan satu lagi, gue tahu lo sudah punya cowok, tapi APA SALAH KALO GUE JUGA JATUH CINTA JUGA SAMA LO ? APA SALAH KALO JANTUNG GUE INI BERDETAK KENCANG KALO ADA

LO ? sekarang lo udah tahu maksud gue dari kejadian di kantin itu.” Ridi pun tak mau kalah, dia bicara penuh dengan penekanan yang tak kalah galak oleh Fizzy.

“ EH..LO ITU CUMA BUANG WAKTU NGOMONG KAYAK GITU, GUE BALIK.” Fizzy berusaha lari dari tatapan tajam mata Ridi tapi…

“ Fiz, gue belom selesai ngomong..LO HARUS NGERTI DONG..LO HARUS DENGERIN APA YANG GUE MAU OMONGIN KE LO.” Bentak Ridi memegang erat kedua tangannya Fizzy agar Fizzy tak pergi, wajah Fizzy pun menciut mendengar bentakkan dari Ridi.

“ Ya UDAH NGOMONG AJA..TAPI JANGAN BENTAK-BENTAK DONG!!!” marah Fizzy yang tak terima.

“ Sorry Fiz, setiap gue ngelihat lo, gue jatuh cinta sama lo..please ngertiin gue.” Ridi dengan rendah hatinya dihadapan Fizzy, itu pun hal pertama yang baru dilihat oleh Fizzy.

“ Maaf, gue gak bisa…gue tetep masih sayang sama Kak Didi, gue gak mau duain dia, gue udah 2 tahun sama dia, gue kira jawaban gue cukup jelas..dan sekarang lo ga usah ngalangin gue pergi..lepasin tangan lo..lo tuh cowok aneh tahu.” Fizzy lalu pergi meninggalkan Ridi. Ridi pun lari dan mengejar Fizzy, lalu memeluk tubuh kecilnya Fizzy sekali lagi.

“ Gue gak bisa Ridi, please bebasin gue, gue gak bisa jadi pacar lo, karena gue…cinta…” kalimat Fizzy terputus tak kuasa menahan air mata yang suci itu.

“ Lo gak harus jawab, gue akan menunggu lo sampe lo mau, sampe jantung lo berdetak kencang ketika ketemu gue, itu aja.” Jelas Ridi.

“ gue heran, kenapa lo nembak gue yang udah punya cowok.”

“ Oh oh..indah ku ingat dirimu…tinggalkan saja pacarmu…”

ponsel Fizzy yang memakai ringtone Yovie and Nuno itu diangkat oleh Fizzy, ponsel itu berada di saku seragam SMAnya, tapi tiba-tiba saja ponsel itu mati karena batre ponselnya habis.

“ Kak..Didi..” Fizzy melihat nama itu di layar ponselnya sebelum ponsel itu mati.

Suasana di rumah sakit ternyata oprasinya sudah selesai dan beberapa menit kemudian Didi sadar, Didi langsung menelpon Fizzy sekali lagi untuk memberitahu keadaannya sekarang tetapi…

“ NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF.” Ponsel Fizzy tidak aktif, tapi Didi berusaha menghubungi ponselnya Ridi, karena Didi yakin, sekarang Didi bersama dengan Fizzy, dan akhirnya nyambung…

“ Halo…” sapa Ridi yang masih berhadapan dengan Fizzy di taman belakang sekolah.

“ Fiz…cowok lo sekarang di rumah sakit terkena serangan jantung, nih dia mau ngomong sama lo.” Sejenak Ridi melupakan pembicaraannya dengan Fizzy mengenai perasaannya.

“ Halo Kak Didi, Kak Didi kenapa ? Fizzy mau kesana, sekarang kamu ada di rumah sakit mana? Kamu harus kuat, kamu harus sembuh….” Fizzy berjalan teburu-buru mengikuti Ridi yang sedang berjalan ke lapangan parkir sekolah.

“ Sekarang lo naek mobil gue..BURUAN DONG MASUKNYA.” Ridi memerintahkan Fizzy untuk naik mobil Honda Jess berwarna merah, dan Ridi menarik dan memegang erat tangan Fizzy sambil menyetir, Fizzy hanya menangis, Ridi tak kuasa melihat air mata Fizzy jatuh perlahan-lahan.

“ Fizzy…saya gak apa-apa kok sayang. “ Didi menenangkan Fizzy.

“ Sekarang Fizzy mau menuju rumah sakit, Kamu jangan putusin ponsel kamu ya !!” cemas Fizzy yang tidak mementingkan Ridi disampingnya yang sedang menyetir dengan serius, Ridi mengerem saat ada lampu merah.

“ Sudah dulu ya Fizzi..saya baik-baik saja kok, untuk memastikan, saya akan mengatakan sesuatu…saya tetap sayang sama kamu, dan satu lagi, kamu jangan khawatir sama penyakit jantungku sekarang, jantung ini selalu berdetak untuk kamu, karena saya cinta sama kamu, dan cowok di samping kamu pasti Ridi..” jelas Didi dengan nafas yang terengap-engap.

“ Maksud Kak Didi itu…Ridi ??” Fizzy langsung memandang sayu bola mata Ridi, dan Ridi membalas tatapan itu.

“ Ya, Dia itu sayang sama kamu, me..le..bi..hi..sayang sa…ma.. kamu..Fi..zzzyy.” makin lama suara Didi terbata-bata.

“s.a.y.a.n.gk.u…kamu tenang aja, j.a.n.t.u.n.g s.a.ya….m.a.s.i.h b.e.r.detak.” Didi memutuskan ponselnya.

“ TUTT..tuttt…”

Ketika Didi menutup ponselnya, tiba-tiba saja muka Didi menjadi pucat, serta tangan kanannya memegang dada kirinya dengan nafas yang tadinya normal, sekarang turun drastic terenggap. Ibundanya Didi hanya mampuh menangis menatap anaknya yang dikelilingi kabel, tak tega melihat anak semata wayangnya menderita di atas tempat tidur.

“ DOKTER…SUSTER….ANAK..SAYA???!!!” teriak Ibundanya Didi.

“ Tenang Bu..Ibu harus keluar sebentar.” Jawab san dokter dengan tergesah-gesah memasuki ruangan dimana Didi dirawat. Sang dokter mengeluarkan alat yang berbentuk seperti setrikaan,lalu ditempelkan di dadanya untuk membantu kestabilan denyut jantungnya dan ternyata…

Setibanya di rumah sakit, Ridi sibuk mencari tahu ruang kamarnya Didi, sedangkan Fizzy duduk menunggu Ridi sambil menagis. Menyesali dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri, Fizzy tidak ada di samping Didi di saat cowoknya itu butuh.

“ Fizzy…” suara sayu itu ternyata Didi, wajahnya pucat sekali.

“ Kak Didi kok ?” Fizzy kaget melihat sesosok Didi berada di sampingnya yang duduk dekat dengan pintu masuk rumah sakit.

“ Emang enak, dibohongin, Kak Didi gak apa kok.” Sahut Didi dengan nada becanda.

“ Kak Didi gimana sih, KALO BECANDA JANGAN JAYUS DONK..Fizzy sebel sama kamu.” Fizzy menangis sambil melepaskan kerinduannya dengan Didi.

“ Fizzy jangan sedih, saya pergi dulu ya, saya sayang sama kamu!!” jawab Didi dengan muka yang pucat, setelah melihat Ridi yang berjalan menuju tempat duduk yang diduduki Fizzy, lalu sesosok Didi itu menghilang.

“ Fizzy..CEPETAN!! GUE UDAH DAPET KAMARNYA.” Teriak Ridi sambil menatap Fizzy yang sedang mengelap air matanya.

“ Gak usah, Ridi.. tadi gue udah ketemu sama Kak Didi, dia duduk di samping gue, kata dia, dia gak kenapa-napa, dia Cuma becanda.”

“ AH..MANA DIDI ? BURUAN !! jangan buang-buang waktu.” Ridi tengok kanan dan kiri, lalu menarik lengan Fizzy.

Ketika Fizzy dan Ridi membuka pintu kamar itu, ternyata mereka hanya melihat Didi dengan ditutupi kain putih. Kain itu putihh sekali…menutupi tubuh kekar Didi yang tak berdaya.

“ INI GAK MUNGKIN…GAK MUNGKIN….KAK DIDI !!!!” Fizzy tak percaya dan dibukanya kain itu dan ternyata…

“  KAK DIDI..” teriak Fizzy.

“ Fizzy, udah…Kak Didi akan sedih kalo kamu nangis.” Ridi berusaha menenangkan Fizzy sambil memeluk dan mengusapkan air matanya dengan tangannya Ridi.

“ MAAFIN FIZI…FIZZY GA ADA DI SAMPING KAMU, MALAHAN FIZZY ADA DI TAMAN SEKOLAH SAAT KAK DIDI BUTUH FIZZY, FIZZY SAYANG SAMA KAMU…KENAPA KAK ? JAWAB?? KAK DIDI GAK BILANG KALO KAMU PUNYA PENYAKIT JANTUNG, KENAPA KAMU SEMBUNYIKAN, KALAU AKU TAHU, AKU PASTI JAGAIN KAMU TERUS, KENAPA AKU PISAH SAMA KAMU DISAAT CINTA FIZZY BERKEMBANG..?? SIAPA YANG AKAN MENDENGARKAN KELUH KESAH FIZZY ? KEMARIN BARU SAJA KAMU PELUK AKU, BILANG SAYANG SAMA AKU, TAPI KENAPA KAMU PERGI GITU AJA, NINGGALIN FIZZY.” Fizzy melontarkan penyesalan sambil memeluk jasad Didi, Didi pun tidak menjawab semua pertanyaan Fizzy, Didi hanya menjawab dengan diam.

Ridi mengajak Fizzy keluar ruangan untuk menenangkan hati Fizzy yang sedang terpukul melihat kekasihnya terdampar tak bernyawa.

“ Fizzy, ini kehendak Tuhan, kalau Didi harus pergi.” Ridi menenangkan Fizzy dan Fizzy bersandar di dadanya Ridi, dadanya begitu hangat.

“ Kenapa, Ridi? Kita gak ada di sini? Kenapa kita ga ada di sini..kasihan Kak Didi merintih dalam sakitnya.” Sesal Fizzy, namun pertanyaan-pertanyaan itu tak mampuh dijawab oleh Ridi, Ridi hanya diam sesaat.

“ Sekarang gue baru tahu, kalo lo bener-bener menyukai Didi dan gue ga bisa jadi…”

“ Di..tolong!! jangan dibahas, please..” tolak Fizzy.

Di tanah lapang, pohon lebat, rerumputan serta bunga sedap malam menemani Didi dalam tidur yang panjang, hanya doa dan serpihan-serpihan bunga yang diberikan oleh Fizzy, yang memakai baju hitam, bandana hitam serta jam tangan hitam.

Di taman sekolah, Fizzy duduk sendiri mengingat kenangan manis bersama Didi, ketika dia memeluk Didi, ketika merasakan kasih sayang yang tulus, tetesan air mata itu jatuh lagi, lalu tiba-tiba saja Ridi datang duduk di sebelah Fizzy.

“ Fiz..maafin gue ya ?” tanya Ridi.

“ Ridi, apakah lo masih sayang sama gue?” Fizzy mengabaikan kata maafnya Ridi. Pandangan Fizzy yang kosong, kemudian bola mata itu terlihat bayangan Ridi.

“ Fizzy, gue selalu sayang sama lo sampai kapanpun.”

“ Sekarang, jantung gue berdetak kencang ketika lo ada di samping gue sekarang, apakah gue sudah jatuh cinta sama lo?” jelas Fizzy menatap kedua bola matanya Ridi.

“ Berarti lo juga sayang sama gue, terimakasih Fizzy…akhirnya jantung lo, hati lo menerima gue.” Ridi senang sekali mendengar ucapan dari bibir tipis Fizzy, mungkin ini adalah kata-kata terindah yang pernah diucapkan oleh Fizzy.

Fizzy…” dari kejauhan Didi tersenyum pada Fizzy, dan Fizzy pun membalas senyuman itu, kemudian Didi menghilang di bawa oleh angina.

“ Berarti kita jadian nih sekarang ?” tanya Ridi.

“ Yup..”

“ Eh kita balapan yuk..yang jadi juara umum itu aku atau kamu ya?” tantang Ridi.

“ Ye,,sok ‘aku kamu’ deh, tapi SIAPA TAKUT!!” Canda Fizzy.

“ Kita kan

udah jadi pasangan kekasih, jadi harus panggil ‘aku kamu’, setuju?” tambah Ridi.

“ Pasangan suami istri aja…he..he..” Mita datang dengan tiba-tiba.

“ MITAAA….” Teriak Fizzy dan Ridi.

“ Cie yang baru jadian, dulu aja jutek-jutekkan, berebutan juara umum, tapi kalian punya saingan baru, yaitu ‘gue’ yang jadi saingan lo, gue juga mau jadi juara umum.Ok semangat.” Tambah Mita yang ikut-ikutan semangat.

“ SIAPA TAKUT.” Tantang Fizzy dan Ridi yang saling merangkul membuat Mita iri.

Segala suatu hal pasti ada hikamahnya, dengan adanya semangat, maka hidup ini akan menjadi penuh warna, begitupula dengan adanya cinta yang hadir, warna-warna hidup ini akan semakin bertambah.

BY : MAYA

2 responses

  1. andri sinyster joe

    Cerpena bgs bgt bsk2 bwt yg laen eaaa…

    Februari 14, 2010 pukul 4:01 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s