Satu di dalam perbedaan

Muhammad SAW dan The Law 0f Attraction


Sungguh, Muhammad tidak pernah menanamkan dalam dirinya hal-hal yang tidak baik. Dia bahkan mengajarkan untuk selalu berniat yang baik. Niat yang baik saja sudah mendapat pahala, meski itu belum dikerjakan The Law of Attraction atau Hukum Tarik-Menarik adalah salah satu hukum temuan dalam Fisika Quantum. Hukum ini mengatakan, “Kesamaan akan menarik kesamaan” atau “Kemiripan akan menarik kemiripan.” Hukum Tarik-Menarik adalah hukum penciptaan. Para ahli fisika kuantum mengatakan kepada kita bahwa seluruh semesta muncul dari pikiran.Ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke diri Anda. Hidup Anda sekarang ini adalah cerminan dari pikiran-pikiran di masa lalu. Hukum ini kemudian mengilhami terutama para trainer dalam bidang pengembangan kepribadian. Ia diaplikasikan untuk melecut dan mengembangkan potensi diri. Hukum ini meski baru ditemukan, tapi ia ternyata sudah dipraktekkan dalam kehidupan para tokoh dunia yang pernah ada. Hanya 1 -persen orang yang mengetahui, dan itulah tokoh-tokoh yang pernah menguasai dunia ini. Karenanya mereka kemudian ada yang menamai hukum ini dengan the secret (rahasia). Mengapa disebut the Secret? Karena hukum ini akan mengantar seseorang yang mengetahuinya dan menerapkannya kepada hasil maksimal yang diharapkan. Manusia, dalam pandangan hukum ini, adalah magnet terbesar di semesta ini. Karena ia adalah magnet terbesar, maka apa pun yang ada di dalam dirinya akan menarik ke dirinya hal yang serupa yang ada di dirinya. Konkritnya, kalau yang tertanam di dalam diri adalah kebaikan-kebaikan, maka kebaikan-kebaikan itu akan menarik kebaikan-kebaikan serupa dari semesta ini ke diri kita. Sebaliknya, kalau yang tertanam di dalam diri adalah keburukan-keburukan, maka itu juga yang akan menarik banyak keburukan ke diri kita. Kalau ingin berhasil dan sukses, spirit sukses dan optimisme harus ada di dalam diri untuk menarik sukses dan keberhasilan yang ingin kita raih. Sebaliknya, kalau rasa pesimis yang menguasai diri, jangan berharap kita akan sukses. Karena justru daya tolak terhadap kesuksesan itulah yang menguasai diri kita. Dengan demikian, pesan hukum ini sangat jelas, “Tanamkan kebaikan-kebaikan di dalam diri, kita akan menarik banyak kebaikan ke diri kita, dan jangan pernah menanamkan hal-hal yang tidak baik di dalam diri, karena itu akan menjadi bumerang yang akan merugikan diri sendiri.” Beberapa hal yang sangat dianjurkan ada di dalam diri antara lain, cinta, optimisme, memaafkan, percaya, terbuka, menghargai, rendah hati, kasih sayang, ramah, dermawan, peduli, pasrah, lembut, empati, damai, suka cita, dan lain-lain. Hukum inilah yang menginspirasi banyak pengarang dalam melahirkan karyanya, misalnya The Secret karya Rhonda Byrne, Quantum Ikhlas dan Zona Ikhlash oleh Erbe Sentanu, Becoming a Money Magnet oleh Adi W Gunawan dan Ariesandi Setyono, dan masih banyak lagi karya lainnya. Tentu karena hukum ini adalah temuan sains, maka bahasanya seperti itu, yaitu bahwa kita akan menarik dari semesta sesuai dengan apa yang ada dalam diri kita. Bagi orang beriman, hal ini harus dipahami bahwa hukum ini adalah sunnatullah yang baru ditemukan. Karena ia adalah sunnatullah di alam semesta, tentu yang mengatur semuanya adalah Allah swt. Sains di tangan Barat selama ini memang masih kelihatan malu untuk mengakui Tuhan sebagai pemberi anugerah. Pribadi-pribadi besar dalam sejarah memang menyimpan sifat dan sikap yang unggul dalam dirinya. Selanjutnya tulisan ini akan mencoba menyorot sisi hidup pribadi terbesar dalam sejarah, Muhammad saw. dalam kaitannya dengan hukum ini secara singkat. Mengapa Muhammad, dan apa rahasia di balik itu? Ajaran Muhammad Muhammad telah menorehkan keberhasilan paling spektakuler dalam sejarah, berhasil merubah akhlak bangsa Arab yang sangat primitif, liar, dan bahkan biadab, menjadi bangsa yang disegani, beradab, hanya dalam tempo kurang lebih 23 tahun. Akhlak kepribadian Muhammad dikenal sangat agung. Di masa mudanya beliau telah digelari al-Amin oleh masyarakat Arab. Pada masa-masa awal perjuangan da’wahnya di awal kerasulannya, sangat banyak rintangan, halangan, onak, dan ancaman yang dihadapinya. Ketika beliau dan para sahabatnya harus keluar dari Mekah menuju Thaif, penduduk Thaif melemparinya dengan batu. Tawaran malaikat untuk membinasakan penduduk Thaif ditolak dengan lembut, “Mereka itu tidak tahu bahwa aku ini adalah Rasul Allah, demikian jawab beliau. Ada orang yang selalu melemparinya dengan kotoran setiap ia melewati suatu jalan, namun nabi saw tidak pernah membalasnya dengan kejahatan yang sama. Saat Fathu Makkah (Pembebasan Mekah), dia membebaskan dan mengampuni semua musuhnya yang pernah memerangi dan menyakitinya. Rahmat (kasih sayang) adalah sifat dan sekaligus misi utama kerasulannya. Imam al-Suyuti dalam Al-Khasa’is, dan Ibn Hajar, dalam Al-Isaba menulis, “Zaid ibn San’an menceritakan: “Sebelum aku memeluk Islam, Rasulullah meminjam sejumlah uang kepadaku. Aku menemuinya untuk mengambil uangku sebelum jatuh tempo, dan menghinanya: “Hai putra Abdul Muttalib, kamu enggan bayar hutangmu ya!” Umar dengan geram bangkit dan berkata, “Kalau saja tak ada perjanjian antara kami dan umat Yahudi, aku akan memenggal kepalamu! Bicaralah yang sopan pada Rasulullah!” Akan tetapi Rasulullah tersenyum kepadaku dan, sambil menoleh kepada Umar, dia berkata: “Bayarlah, dan tambahkan 20 galon, karena engkau telah menakutinya.” Umar menceritakan kisah selanjutnya:Kami keluar bersama-sama. Di jalan, secara tak terduga Zaid berkata: “Hai Umar, tadi kamu marah padaku, tetapi aku justru menemukan dalam dirinya semua ciri Nabi terakhir yang dicatat dalam taurat, perjanjian lama. Kitab itu memuat ayat: kelembutannya melebihi kemarahannya. Berniat Baik Kelancangan yang sangat atas dirinya justru menambah kelembutan dan kesabarannya. Untuk menguji kesabarannya, aku sengaja memprovokasinya. Kini aku yakin bahwa dia adalah Nabi yang kedatangannya diramalkan dalam Taurat. Jadi aku percaya dan bersaksi bahwa dia adalah Nabi terakhir.” Sungguh, Muhammad tidak pernah menanamkan dalam dirinya hal-hal yang tidak baik. Dia bahkan mengajarkan untuk selalu berniat yang baik. Niat yang baik saja sudah mendapat pahala, meski itu belum dikerjakan. Dia juga mengajarkan untuk selalu bersyukur. Dia sendiri, meskipun telah dijamin syurga, dia tetap beribadah sampai kakinya bengkak, sebagai rasa syukurnya kepada Allah swt. Dia juga mengajarkan untuk selalu berprasangka baik, terutama sekali terhadap Allah swt. Melalui lisannya, Allah swt berfirman, Aku menuruti persangkaan hambaKu kepadaKu. Kalau hambaKu berprasangka baik kepadaKu, Aku akan berikan yang terbaik kepadaNya… Muhammad adalah Quran berjalan. Dia adalah perwujudan nyata dari Al Quran yang mengajarkan, “Jika kamu bersyukur Aku akan tambah (nikmat) kepadamu…”; Jika kamu berbuat baik, maka sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimuà. sendiri….” Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. Ah itu sih justifikasi, demikian mungkin yang kita katakan jika mengaitkan pribadi Muhammad ini dengan Hukum Tarik-Menarik. Bagi penulis, ini sama sekali bukan justikasi. Bahkan malah penulis ingin menambahkan beberapa hal terhadap hukum ini yang ada pada diri Muhammad yang tapi tidak ada (tidak terjelaskan) pada hukum tarik-menarik yang kita kenal saat ini. Pertama, keimanan pada Tuhan sebagai sumber spirit terbesar dalam hidup ini. Muhammad tidak saja beriman, tapi juga sangat akrab dan intim dengan Tuhannya. Keakraban dan keintiman dengan Tuhan inilah yang menjadi sumber spirit terbesar dan tidak akan pernah redup dan termatikan dalam diri Muhammad. Keimanan, keakraban, dan keintiman ini juga yang melahirkannya menjadi manusia yang memiliki perilaku dan budi pekerti yang agung. Kedua, cara keluar dari masalah ketika itu menimpa manusia. Kita sesungguhnya tidak bisa lari dari ujian berupa bahagia dan derita, senang dan susah, gembira dan sedih. Karena ini juga adalah bagian dari hukum Allah dalam kehidupan ini. Orang beriman dalam kedua sisi hidup ini akan tetap tegar, tetap stabil, bahkan bahagia dalam derita. “Sungguh beruntung orang beriman, apabila memperoleh nikmat ia bersyukur, dan itu baik baginya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar dan itu juga baik baginya”, demikian kata Umar ibn Khattab. Muhammad dengan sangat gamblang mengajarkan caranya, bukan dengan lari dari masalah, tapi menghadapinya dengan cara menspiritualkan masalah tersebut, seperti yang terumus dalam lagu Tombo Ati-nya Emha dan Opick

Oleh Salahuddin Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s