Satu di dalam perbedaan

TEMUI AKU


Pagi ini cuaca amat dingin, karena sejak tadi malam hujan mengguyur tanah Jawa, masih tersisa titik-titik air hujan dikaca jendela kamarku, kuambil photo seseorang diatas meja dekat tempat tidurku. Kuhembuskan napasku perlahan

“Egi dimana kamu sekarang, aku sudah kangen.”
Kataku pada sebuah photo yang sudah kupeluk. Kembali ingatanku melayang kepada sosok Egi, sosok yang selama ini sudah terlalu lama aku nantikan. Egi Meirian, nama itulah yang selalu kuingat selama ini , rasanya takkan mungkin ada nama lain yang tertoreh dihatiku selain Egi. Egi bagiku adalah seorang cowok yang mempunyai senyum yang bisa merontokan hati cewek mana saja yang melihatnya, walaupun dalam kesehariannya dia kurang banyak tersenyum. Kepribadian egi yang terkesan misteri dan dingin terhadap cewek walaupun banyak cewek-cewek yang antri menarik simpatinya.
Tapi semua perasaanku kepada Egi tidak pernah
kubicarakan kepada siapapun termasuk kepada sahabat sebangkuku Cici. Semua yang ada di hatiku kupendam sendiri, dan berusaha kusembunyikan seapik mungkin agar tidak ada seorangpun yang tahu. Aku hanya mendengarkan setiap berita-berita terbaru tentang segala sesuatunya yang berhubungan dengan Egi , tentang sederetan nama cewek-cewek cantik yang berusaha mencuri perhatiannya, yang tentu saja membuat hatiku panas setiap kali mendengarnya, dan tentang hobi Egi, balap motor liar di jalanan, yang membuatku semakin jatuh cinta Aku seringkali berkhayal, seandainya aku dapat menjadi pacarnya dan ikutan balapan sama Egi, pasti aku akan seneng banget . Aku tahu semua itu takkan mungkin terjadi. Aku sadar siapa lah aku ini, cewek yang mempunyai modal yang pas-pasan untuk dapat menggaet hatinya. Aku sebenarnya gak jelek-jelek amat kok, itu kata ibuku sih.

Tubuhku mungil, hidungku bangir, kulitku putih,
tapi ada sesuatu yang selama ini menjadi ciri khasku yaitu kacamata yang menempel di hidungku, yang membuat aku dikenal dengan sebutan Dian kacamata.
Soalnya di kelasku yang namanya Dian ada 2. Satunya lagi adalah Dian Marcella, photomodel yang wajahnya sering banget muncul di majalah remaja. Kelebihanku yang aku punya yang belum aku sebutin, yaitu aku mempunyai otak yang encer. Sehingga aku selalu mendapatkan nilai tertinggi dikelasku. Hanya itu, gak ada yang lain Hingga pada suatu hari yang bersejarah, hal yang selama ini yang hanya dapat kukhayalkan telah terjadi dalam hidupku. Entah mimpi apa, Egi berdiri di depan pintu kelasku pas jam istirahat dan kelihatan sedang mencari seseorang . Sudah pasti
kehadiran Egi yang tak disangka-sangka itu membuat cewek-cewek di dalam kelasku melongo.
“Dian..!!” teriak Egi. Deg! Jantungku terasa mau
berhenti mendengarnya. Ah pasti aku salah denger? pikirku.
“Aku…?” tanyaku dengan nada tidak percaya
seraya menunjuk diriku sendiri ketika kulihat Egi
melambaikan tangannya ke arahku. Egi hanya
menganggukan kepalanya sambil memberi isyarat agar aku keluar kelas.
“Oh Tuhan, mimpikah aku ini, atau ada sesuatu
kesalahan yang sudah kulakukan ..?” gumamku dalam hati. Kucubit tanganku… sakit, berarti aku nggak mimpi.
“Ada apa Gi?” tanyaku dengan suara yang hampir
nggak bisa keluar karena saking gugupnya
“Nggak, aku cuma ngggg…” Egi kelihatan ragu untuk
ngomong. dihembuskannya napas sebentar
“Aku cuma pengen nanya, boleh nggak ntar malam aku ke rumah kamu?” Mendengar ucapan Egi barusan, rasanya aku ingin pingsan.
“Boleh, nggak ada yang larang kok, tapi dalam rangka apa nih?…” tanyaku agak berdebar-debar
“Nggak ada pa-pa, ntar malam aja aku ceritain?” egi memandangku dengan pandangan mata yang seakan-akan
ingin menembus hatiku. Aku mengangguk dan memberikan senyuman yang menurutku paling termanis walaupun aku nggak tahu senyuman yang kuberikan itu manis atau kelihatan seperti seringaian yang mengerikan, aku nggak peduli yang penting sekarang aku Happy….!!

Tepat pukul 07.15 malam Egi datang menemuiku, dengan memakai kemeja biru dan celana Jeans berwarna senada. Egi terlihat ganteng dari biasanya
“Silakan duduk Gi !!” Aku mempersilakan Egi duduk di teras rumah , setelah dia menyimpan motor kesayangannya di halaman.
“Yan, malam minggu kayak gini, apa nggak ada yang ngapelin kamu?” Egi membuka obrolan
“Ada,” jawabku santai. Seketika wajah Egi agak
berubah mendengar jawabanku
“Oh begitu ya, berarti aku sekarang mengganggu acara kamu dong, kalau boleh tau, siapa sih, cowok kamu ya?” Tanya Egi dengan nada kecewa .
“Orangnya ada disampingku sekarang,” mendengar
keteranganku barusan Egi tertawa lepas, Oh tuhan
manisnya senyuman itu.
“Bisa juga rupanya kamu bercanda, oh ya Yan, ada
yang ingin aku bicarakan sama kamu” lanjut Egi , deg tiba-tiba jantungku serasa mau copot
“Yan, boleh nggak aku minta bantuan kamu ?”
“Bantuan apaan?” tanyaku dengan tatapan heran
“Gini yan, nilai Fisikaku tuh sangat memalukan
dibandingkan dengan teman-teman yang lain, trus kata pak Sumadi guru Fisika kita, aku disuruh belajar dari kamu, soalnya, katanya di antara semua murid kamu yang paling jago pelajaran Fisika, jadi aku pengen les private ama kamu, bolehkan ?” Tiba-tiba
air minum yang dalam mulutku terasa pengen muncrat keluar. Cepat-cepat aku menguasai diri
“Mmm… Gimana ya Gi, aku bukannya nggak mau cuma …”
“Kamu nggak perlu khawatir deh Yan, mengenai
honornya, bisa kita atur kok,” Egi memotong
omonganku
“Bukan ! Bukan masalah itu yang aku pikiran tapi apa kata teman-teman nanti kalo mereka tau kamu belajar ama aku” Kataku pelan
“Mengenai itu, kamu cuek aja, toh kita nggak ganggu mereka kan?”
“Ya udah, mulai lesnya kapan nih?” tanyaku sambil
pura-pura mengambil air minumku supaya nggak terlalu kelihatan kegembiraanku saat ini.

“Makasih yan, makasih banget…!!” Katanya gembira
sambil mencium pipiku
“Ya Tuhan, dia menciumku…!!” kataku dalam hati , aku mau pingsan dulu ah….!!

Sejak malam itu hari-hari yang kulewati sekarang
adalah hari-hari yang terindah sepanjang hidupku.
Sekarang, setiap hari aku bisa berduaan sama Egi.
Tidak kupedulikan tatapan iri cewek-cewek
disekolahku, juga segala nasehat yang diberikan
sahabat baikku, karena katanya sejak aku bergaul
dengan Egi dia melihat perubahan pada diriku. Dia
juga takut nanti aku ikut-ikutan balapan liar
seperti hobi Egi selama ini.
Dian sekarang memang bukanlah Dian yang dulu.
Kacamataku sudah kuganti dengan contact lens, rambut ikalku sudah kuluruskan, wajahku yang dulunya sering polos sekarang sudah berwarna-warni.
“Yan, apa kamu udah pikirkan masak-masak buat jadi ceweknya egi.” Cici membuka obrolan kami, ketika kami udah mendapatkan kursi yang strategis buat ngeliat cowok-cowok yang lagi bermain basket, sambil nunggu Mbak Etik penjaga kantin kami, menyiapkan pesanan
”Ya, iya lah nona manis, kalau nggak, nggak
mungkinkan aku mau diajaknya keluar malam-malam,” ujarku santai sambil tertawa mendengar pertanyaannya yang kudengar sangat lucu
“Apa kamu ikutan balapan liar juga?” Tanya
cici lagi
“Kadang-kadang”. Jawabku sombong sambil memulai menikmati baksoku yang sudah disuguhkan
“Apa kamu nggak takut jatuh Yan, balapan motor kan bahaya banget”.
“Pokoknya kamu jangan khawatir deh, dijamin aku
nggak bakalan ada apa-apa, kamu santai aja,” Jawabku sedikit menyombongkan diri
“Tapi itukan hanya kebetulan Yan, kita nggak tau apa yang bakalan terjadi nanti ” tatap Cici lembut
padaku. Aku menjadi agak marah dengan kata-kata Cici yang menurutku udah terlalu jauh mencampuri urusanku
“Eh udah ah, kamu kok jadi rese sih Ci. Kamu urus
aja diri kamu sendiri. Oh ya, apa kamu nggak pengen punya pacar, soalnya aku liat sejak kelas 1 sampe kelas 3 sekarang kamu belum punya pacar kan?”
sindirku, sambil tersenyum mengejek dan berjalan
meninggalkan Cici sendirian di kantin. Sempat kulihat raut wajah Cici yang langsung berubah,
ketika mendengar ucapanku yang barangkali udah
kelewatan tapi, ah masa bodo..!!

“Yan, nanti malam kamu bisa keluar nggak,”tanya Egi ketika kami pulang sekolah dan berjalan bareng untuk yang kesekian kalinya
“Nggak tau nih Gi, soalnya ntar malam mau belajar, lagipula rasanya aku udah terlalu sering membohongi mamaku.”
“Yah, sayang ya, padahal malam ini peserta balap motornya tambah ramai lo,” ujar Egi dengan wajah kecewa
“Sory deh Gi, tapi nanti kuusahakan deh supaya aku bisa keluar bila perlu nanti malam aku akan keluar dari jendela.”
“Bener nih, janji ya?” Tanya Egi seketika dengan wajah ceria. Aku hanya menganggukan kepala.
“Nah gitu dong, kalau mau jadi pacarku,” jawab Egi sambil mencubit mesra pipiku .
“Gi, sorry ya, aku agak telat, soalnya tadi aku harus pura-pura tidur dulu baru bisa keluar,” kataku kepada Egi yang kelihatan udah merasa bete menungguku di Cafe yang udah kami janjikan tadi siang
“Ya udah, nggak apa-apa deh, kamu udah siap kan?”.
“Siap boss” jawabku senang sambil naik ke atas motornya Egi yang udah di-starter.
Malam ini rupanya yang ikutan balapan memang lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Membuat ambisi pada diri Egi untuk menjadi urutan terdepan timbul.
“Yan, kamu pegangnya kuat-kuat ya, kita harus berada paling depan dari mereka,” kata Egi saat motor kami udah melaju meninggalkan pembalap liar yang lain .
Tikungan yang pertama, kami dapat melewatinya dengan sukses, begitu juga dengan tikungan yang kedua kami melewatinya dengan lancar-lancar saja .Tapi ketika motor kami berada pada tikungan yang ketiga, tiba-tiba salah satu motor mendahului kami. tanpa menggunakan akal sehatnya lagi, Egi menarik gas motornya dengan sekuat-kuatnya dan melesat menyalib motor didepan tapi tiba-tiba Egi tidak dapat menjaga keseimbangan motornya. Aku yang merasa panik hanya dapat menjerit. Kami terjatuh dan terseret di jalan, kurasakan seluruh tubuhku terasa sakit dan berguling-guling beberapa kali, tidak ada yang dapat kulakukan saat itu, yang sempat kulihat saat itu hanyalah Egi yang mencoba bangkit, setelah itu aku sudah tidak sadar lagi, karena yang kurasakan kepalaku teramat sakit dan selanjutnya hanyalah gelap.

Lamunanku tiba-tiba terganggu dengan kehadiran kucing kesayanganku yang sepertinya kelaparan, kucing angora itu berjalan mondar mandir di kamar tempat aku menghabiskan hari-hariku sejak peristiwa naas itu. Aku ingin bangkit dan mengelusnya tapi hal itu tak dapat kulakukan lagi. Kakiku lumpuh!
Dari arah pintu kulihat mama masuk membawakan aku makanan untuk sarapan, kulepaskan photo Egi yang sejak tadi kupeluk
“Ma, Egi mana ya ma?” Mama hanya menatap iba kearahku mendengar pertanyaanku barusan.
“Rasanya Egi udah lama banget deh nggak menemui Dian. Kangen banget nih Ma.”
Mama tidak menanggapi ucapanku. Mama hanya membelai rambut hitamku yang sekarang sudah tidak lagi terurus
“Yan, sadar, kamu harus bisa menerima kenyataan. Egi sudah meninggal nak !”
“Mama kok selalu aja berbohong. Dian tau, pasti Egi lagi sibuk buat ngadepin ulangan kan?”
“Nggak Yan, Egi udah meninggal delapan bulan yang lalu”
“Tidak, Dian tau mama bohong. Pasti mama bohong kan, ha…ha…ha…”
Aku merasakan lucu mendengar keterangan mama dan tertawa sepuas-puasnya, sedetik kemudian aku mengamuk, kubanting piring yang ada di tangan mama, kujambak rambut mama sambil berusaha mencakar wajahnya yang kulihat seperti setan.
“Dokter…., tolong…..!!!” Teriak mama kesakitan
Tergopoh-gopoh kulihat seseorang berkepala botak dan berbaju putih menyuntik pergelangan tanganku, sesaat aku lemas dan terlelap kembali seperti biasanya.

OLEH : ISWIN HARIADI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s