Satu di dalam perbedaan

I LAGALIGO


NOVEL KARYA : DUL ABDUL RAHMAN

OLEH: MUHAMMAD NURSAM

MESKIPUN kamu tidak punya apa-apa, tidak punya banyak uang. Tapi, jika kamu punya sesuatu yang bisa diwariskan dan bisa membuatmu dikenang, itu sudah lebih dari cukup.
Kata-kata itu meluncur dari mulut Dul Abdul Rahman. Sekira pukul 10 pagi, saya baru tiba di kediaman pribadi novelis Sulsel yang cukup produktif ini. Suasana di kediamannya cukup sepi. Dia tinggal seorang diri. Namun kesendiriannya itu terobati oleh buku-buku yang terpajang di rak pada kedua sisi dinding di rumahnya.
Saya mengamati rak buku tersebut. Didominasi oleh buku sastra dan budaya. Ada pula buku agama serta filsafat. Beberapa buku yang terpajang mencolok merupakan karyanya sendiri.
Nama lengkapnya Abdul Rahman R, namun dia lebih dikenal di dunia sastra sebagai Dul Abdul Rahman. Bagi pembaca setia Halaman Budaya FAJAR, tentu sudah tak asing lagi dengan nama ini. Saking produktifnya menulis tentang sastra dan budaya, nyaris tiap bulan tulisannya muncul di halaman tersebut.
Bang Dul, demikian sapaannya, mengaku mulai aktif menulis sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu karya-karyanya sudah dimuat di Surat Kabar Harian (SKH) Mimbar Karya. Kemudian pada tahun 1993 dia terdaftar sebagai mahasiswa Unhas. Pada kurun waktu 1993 hingga 1997, dia cukup produktif menulis cerpen dan puisi.
“Seusai kuliah, saya menjadi dosen yayasan di STIMIK AKBA. Hingga lima tahun setelahnya, saya hanya fokus bekerja sebagai dosen dan vakum berkarya,” tuturnya mengenang kembali masa-masa paceklik karya yang dialaminya.
Ternyata, Harian FAJAR punya andil besar membangkitkan kembali semangat Dul Abdul Rahman untuk menulis. Dia kembali menggeluti dunia tulis menulis setelah terpilih sebagai Dewan Pembaca Harian FAJAR.
“Awal kebangkitan saya menulis, ketika menjadi anggota Dewan Pembaca Harian FAJAR pada 2002 silam. Ketika itu, saya diberi tugas membaca dan mengamati Harian FAJAR edisi Minggu. Di situ saya melihat, banyak yang menulis asal saja, tanpa menggali nilai-nilai budaya yang ada di Sulsel. Sejak itu hingga sekarang, saya bertekad menekuni dunia sastra dan budaya,” ungkapnya.
Sebagai seorang penulis dan pekerja budaya, Dul Abdul Rahman bertekad memperkenalkan Epos La Galigo melalui novel. “Proyek besar”-nya saat ini adalah berusaha menovelkan kitab La Galigo dengan bahasa populer.
“La Galigo adalah karya besar serupa Mahabarata dari India. Sayang sekali tidak ada gaungnya karena tidak ada pembacanya. Saya sedang menyiapkan novel trilogi tentang La Galigo,” terang alumni SMA Negeri 1 Bikeru Sinjai ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s